Loading...
INSPIRASI
Penulis: Trisno S Sutanto 08:05 WIB | Rabu, 10 April 2013

Abrar

Abrar dan Ibunya dalam film \\\"Temani Aku Bunda.\\\"

SEHARUSNYA kita malu pada Abrar, panggilan akrab Muhammad Abrary Pulungan. Bocah yang baru lulus SD itu memiliki keteguhan untuk mempertahankan prinsip-prinsip hidup yang bahkan melebihi tokoh-tokoh agama, apalagi para politisi negeri ini.

Menjelang Ujian Nasional 10-12 Mei 2011, saat masih duduk di SDN 06 Petang Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Abrar didesak gurunya sendiri ikut berkomplot bersama teman-temannya berbuat curang, dengan memberi jawaban pada murid yang tidak bisa menjawab soal ujian. Karena itu, ia disuruh tidak menceritakan apa yang terjadi saat ujian—dan kesepakatan tertulis yang telah diambil—kepada siapapun, termasuk orangtuanya, sampai mereka dewasa. Jika membocorkan, mereka akan kena hukuman berat.

Tetapi nurani Abrar memberontak. Bukankah seharusnya sekolah mengajarkan nilai-nilai kejujuran yang juga diajarkan keluarganya, maupun diperintahkan oleh agama? Tetapi mengapa justru pihak sekolah meminta ia berbohong, dan bahkan bersumpah untuk menutupi kebohongan itu, termasuk kepada orangtua, hanya demi murid mereka lulus Ujian Nasional?  Ia tak tahan dan membongkar "kesepakatan bodoh" tadi, begitu ia mengistilahkannya, pada Irma Winda Lubis, ibunya. Walau untuk itu, ia diasingkan dari lingkungan sekolah dan teman-temannya.

Cerita Abrar mengubah hidup keluarganya. Winda berusaha lewat berbagai cara untuk membongkar praktik-praktik kecurangan dan "konspirasi bisu" yang melingkupinya, termasuk membuat video dokumenter kolaborasi "Temani Aku Bunda" yang dirilis awal April lalu. Sampai sekarang, perjuangan mereka masih berlangsung, sebab para pemangku kepentingan pendidikan di negeri ini tidak menggubrisnya.

Seharusnya kita malu pada Abrar. 

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home