Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 11:46 WIB | Sabtu, 17 Februari 2024

Kekurangan Amunisi, Pasukan Ukraina Mundur dari Kota Avdiivka

Seorang prajurit Ukraina dari Brigade Mekanik ke-47 bersiap untuk perang dengan kendaraan tempur Bradley, tidak jauh dari Avdiivka, wilayah Donetsk pada 11 Februari 2024, di tengah invasi Rusia ke Ukraina. (Foto: dok. AFP)

KIEV, SATUHARAPAN.COM-Pasukan Ukraina mundur dari kota Avdiivka di bagian timur yang hancur, kata panglima militer baru Ukraina pada Sabtu (17/2) dini hari, membuka jalan bagi kemajuan terbesar Rusia sejak Mei 2023 ketika mereka merebut kota Bakhmut.

Penarikan diri tersebut, yang diumumkan ketika Ukraina menghadapi kekurangan amunisi yang akut dengan bantuan militer Amerika Serikat yang tertunda selama berbulan-bulan di Kongres, bertujuan untuk menyelamatkan pasukan agar tidak dikepung sepenuhnya oleh pasukan Rusia setelah berbulan-bulan pertempuran sengit, kata Kiev.

Jenderal Oleksandr Syrskyi, yang memimpin militer Ukraina dalam perombakan besar pekan lalu, mengatakan pasukan Ukraina telah pindah kembali ke posisi yang lebih aman di luar kota yang berpenduduk 32.000 jiwa sebelum perang.

“Saya memutuskan untuk menarik unit kami dari kota dan beralih ke pertahanan dari garis yang lebih menguntungkan untuk menghindari pengepungan dan menjaga nyawa serta kesehatan prajurit,” katanya seperti dikutip dalam pernyataan angkatan bersenjata.

Hilangnya kota tersebut hampir dua tahun setelah invasi besar-besaran Rusia mungkin memberi Presiden Volodymyr Zelenskiy alasan yang lebih kuat untuk meminta bantuan militer yang lebih mendesak kepada Barat saat ia berpidato di Konferensi Keamanan Munich pada Sabtu (17/2) pagi.

Presiden AS, Joe Biden, mengatakan pada hari Kamis bahwa Avdiivka berisiko jatuh ke tangan pasukan Rusia karena kekurangan amunisi setelah berbulan-bulan Kongres Partai Republik menentang paket bantuan militer AS yang baru untuk Kiev.

Merebut Avdiivka adalah kunci bagi tujuan Rusia untuk mengamankan kendali penuh atas dua provinsi yang membentuk kawasan industri Donbas, dan dapat memberi Presiden Vladimir Putin kemenangan di medan perang saat ia berupaya untuk terpilih kembali pada bulan depan.

Avdiivka telah menanggung beban terberat dari meningkatnya tekanan ofensif pasukan Rusia di wilayah timur karena berkurangnya bantuan militer Barat telah menambah kelelahan pasukan yang bertempur selama hampir dua tahun. “Kami mengambil tindakan untuk menstabilkan situasi dan mempertahankan posisi kami,” kata Syrskyi.

Belum ada komentar langsung mengenai penarikan diri dari Kementerian Pertahanan Rusia, Zelenskiy atau menteri pertahanan Ukraina.

Rusia meningkatkan serangannya terhadap Avdiivka pada bulan Oktober dan posisi Ukraina tampak semakin tegang selama beberapa pekan.

Brigade Serangan Ketiga, sebuah unit serangan infanteri terkemuka Ukraina, dikerahkan ke kota itu untuk membantu memperkuat pasukan pekan ini ketika pasukan Ukraina lainnya mundur dari tenggara kota.

Unit tersebut menggambarkan pertempuran itu sebagai “neraka” dan mengatakan di media sosial bahwa pasukan bertahan Ukraina kalah jumlah dibandingkan pasukan Rusia dengan rasio sekitar enam berbanding 100 di beberapa tempat.

Rusia belum memberikan rincian mengenai kerugian yang mereka alami dalam pertempuran brutal di kota tersebut, namun para pejabat Ukraina dan analis militer Barat mengatakan kemajuan yang mereka peroleh memerlukan pengorbanan yang sangat besar dalam hal personel dan kendaraan lapis baja.

Kota tersebut, yang kini dihuni oleh kurang dari 1.000 penduduk, terletak tepat di utara Donetsk yang dikuasai Rusia, yang mana Ukraina kehilangan kendali pada tahun 2014 ketika proksi Moskow memulai pemberontakan. Avdiivka memiliki pabrik kokas besar yang berhenti berfungsi selama perang.

Bantuan Prancis

Prancis dan Ukraina pada hari Jumat (16/2) menandatangani perjanjian keamanan bilateral termasuk janji dari Paris untuk mengirimkan lebih banyak senjata, melatih tentara dan mengirim bantuan militer hingga tiga miliar euro ke Kiev tahun ini untuk membantu negara itu dalam perang melawan Rusia, kata istana Elysee.

Kepresidenan Prancis mengatakan perjanjian tersebut, yang ditandatangani oleh Emmanuel Macron dan mitranya, Volodymyr Zelenskyy, mencakup janji Prancis untuk memberikan “hingga” tiga miliar euro  sebagai dukungan militer tambahan kepada Ukraina pada tahun 2024.

Dalam perjanjian tersebut, yang mengikuti kesepakatan serupa yang dicapai Kiev dengan Inggris dan Jerman, Prancis juga berjanji untuk menyediakan lebih banyak peralatan militer, khususnya untuk pertahanan udara.

Prancis, bersama mitra lainnya, juga akan membantu Ukraina membuat kapasitas pertahanannya “semakin dapat dioperasikan dengan NATO,” kata Elysee, seraya menambahkan: “Ini termasuk pengembangan sektor pertahanan modern di Ukraina dan jalan menuju masa depan NATO.” (Reuters)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home