Ketulusan Sang Penatua
SATUHARAPAN.COM – Saat mengikuti ibadah di sebuah jemaat kecil, saya iseng bertanya kepada seorang penatua mengenai kantong persembahan. Saya penasaran dengan adanya tiga kantong persembahan berbeda warna yang diedarkan. Dari penjelasannya, perbedaan warna tersebut ternyata tidak ada maksud apa pun.
Saya memberi masukan untuk menggunakan satu kantong saja sambil mencontohkan apa yg berlaku di gereja di mana saya terdaftar sebagai anggota. Apalagi melihat jumlah yang hadir, dengan satu kantong lebih dari cukup.
Sang Penatua itu mencoba memberi penjelasan dengan wajah memelas. Mimik saya berubah serius ketika mendengarkan penjelasannya. Saya kaget campur prihatin saat dia mengatakan jumlah nominal tertentu yang harus dia ”setorkan” untuk sentralisasi (istilah yang dipakai untuk pengumpulan persembahan ke tingkat sinode). ”Kadang saya harus nombok Pak, tapi nggak apa-apa karena ini toh buat Tuhan,” jelasnya. Saya mengagumi ketulusannya. Kalau saja warga jemaat memiliki ketulusan yang sama untuk memberi, mungkin tiga kantong tidak akan cukup menampung persembahan warga jemaat.
Saya pun bertanya dalam hati: seberapa tulus saya memberi persembahan? Saya teringat kisah janda tua yang dinilai Tuhan memberikan jauh lebih banyak daripada semua orang kaya. Semata-mata karena Sang Janda memberi dengan ketulusan.
Kadang saya merasa telah memberi yang ”terbaik”. Memberi yang terbaik memang tidak mudah. Apalagi kalau sering dibiasakan mengumpulkan baju layak pakai—memperhalus fakta baju bekas—untuk disumbangkan bagi korban bencana. Saatnya untuk mulai bebenah diri dengan mulai memberi dengan hati tulus. Tulus untuk memberikan yang terbaik sebagaimana Tuhan telah memberikan yang terbaik—diri-Nya sendiri.
Editor: ymindrasmoro
Email: inspirasi@satuharapan.com
Rajin Olahraga Kurangi Risiko Terkena Stroke Kembali
JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Dokter spesialis neurologi RSUD Pasar Minggu dr. Marijanty Learny Vera T....