Menjual Mimpi Nias Melalui Pesta Ya’ahowu
JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Kompetisi selancar air (surfing) di Nias dilaksanakan kembali!. Bagi Nias sebenarnya ini bukan yang pertama, karena tercatat beberapa kali telah dilaksanakan sejak tahun 1993 sampai 2000, bahkan berskala internasional seperti Nias Open.
Dari pengalaman kejayaan di masa lalu ini, surfing dinilai mampu menggeliatkan kepariwisataan Nias yang saat ini terpuruk. Oleh karenanya dalam Pesta Ya’ahowu 2016, kompetisi surfing skala internasional menjadi salah satu kegiatan utama. Demikianlah ditegaskan dalam launching tagline “Nias Pulau Impian” tanggal 2 Juni 2016. Menteri Pariwisata mengatakan Nias memiliki potensi kepariwisataan yang besar namun belum dikelola maksimal.
“Jumlah kunjungan ke Nias masih dibawah 25.000 wisatawan, dan hanya menyumbang sekiar 5% dari Rp. 50 miliar total PAD kelima kabupaten/kota di Kep Nias. Maka Pesta Ya’ahowu 2016 diluncurkan, dan akan diisi berbagai kegiatan berdaya tarik,” demikian disampaikan Menpar.
Pada tanggal 15-17 September 2016 dilaksanakan Ya’ahowu Open Surfing Championship di Pantai Sorake, Nias Selatan sebagai bagian dari Pesta Ya’ahowu 2016. Pesta Ya’ahowu merupakan even yang dilaksanakan untuk tujuan promosi wisata. Berbeda dengan sebelumnya, Pesta Ya’ahowu 2016 diselenggarakan terpadu oleh kelima Kabupaten/Kota di Kepulauan Nias. Dibuka tanggal 17 September 2016 di Kabupaten Nias Selatan dan akan ditutup tanggal 26 November 2016 di Kota Gunung Sitoli.
Di Nias Selatan sendiri, pesta berlangsung tanggal 17-19 September 2016 diawali dengan kompetisi lompat batu (jumping stone) dan selancar air (surfing). Lompat batu, adalah atraksi budaya terkait ketangkasan kaum pria melompat batu. Lompat batu telah menjadi ikon wisata Nias selama ini.
Selain lompat batu, salah satu daya tarik wisata Nias lainnya adalah surfing. Sebanyak 61 peserta, 57 pria dan 4 wanita, dari dalam dan luar negeri ikut dalam kompetisi surfing tahun ini. Sekitar 13 peserta lomba dari luar negeri tercatat dari Australia, Finlandia, Amerika, Venezuela, Chile, Uruguay dan Jepang.
“Kegiatan ini adalah rangkaian dari Pesta Ya’ahowu Tahun 2016 yang dilaksanakan di Kepulauan Nias. Kegiatan ini diharapkan dapat mengangkat kepariwistaan Nias sekaligus mengembangkan bibit peselancar muda." demikian sambutan Bupati Nias Selatan Hilarius Duha (15/9).
Pembukaan lomba dilakukan oleh Bupati dengan pemukulan gong diiringi dengan gelar seni budaya dari Sanggar Budaya Hilisawatoniha di pantai Sorake. Dihadiri para pejabat daerah dan tokoh masyarakat serta ratusan pengunjung membuat suasana siang itu sangat meriah. Perlombaan surfing ini dimenangkan oleh peselancar Nias, Justin Bu’ulölö, Rahel Wau dan Alex Bu’ulölö.
Sementara kompetisi lompat batu dimenangkan oleh April Haria dan Marinus Brinto Fau dengan lompatan setinggi 2,45m.
Surfing di Nias
Wilayah pantai Sorake telah melekat dengan aktivitas berselancar sejak lama. Sekitar tahun 1980-90an, Nias menjadi primadona para peselancar dunia. Pasca bencana alam tahun 2004/05 pantai ini mengalami kerusakan dan kehidupan wisata yang semula ramai disini ikut mati. Kendati dengan infrastruktur dan fasilitas umum terbatas, dalam jumlah kecil para peselancar tetap rutin mendatanginya. Karakter dan gulungan ombak yang panjang dengan tinggi lebih 5 meter, sudah melekat di hati para peselancar.
Kedahsyatan ombak ini nampaknya yang memanggil-manggil mereka untuk datang. Wilayah itu perlahan-lahan kembali berbenah. Penginapan yang hancur mulai dibangun kembali, yang baru sudah bertambah. Dulu kawasan ini muram, kini merona kembali.
Setelah Hawaii, Nias yang terletak di Samudera Hindia memiliki potensi dan daya tarik tersendiri bagi penggemar olah raga air ini. Di kepulauan Nias ada belasan pantai yang baik untuk berselancar. Selain di pulau-pulau Batu, pulau Asu di Nias Barat, Afulu di Nias Utara maka pantai Sorake yang letaknya di Teluk Lagundri sekitar 2 km dari Kota Teluk Dalam menjadi favorit karena memiliki dua spot surfing, istilahnya the points dan the indicators. Biasanya sekitar Juni-Oktober adalah saat paling ramai dikunjungi
peselancar.
Anak-anak Nias di kawasan ini pun banyak yang mampu berselancar. Umumnya mereka belajar dari para wisatawan yang datang berselancar dan menginap di Sorake. Mereka juga mampu menjelaskan karakter dan gerak ombak dan bisa menjadi pemandu bagi para surfer pemula. Dalam dunia selancar, kehandalan peselancar Nias telah diakui. Tercatat peselancar wanita asal desa Lagundri yaitu Yasniar ‘Bone’ Gea, telah memenangkan Asian Woman Surfing Champion beberapa kali.
Kompetisi Internasional
Ketika dihubungi, Mark Flint, seorang warga Australia pemerhati surfing mengatakan ;” Kalau untuk kompetisi internasional belum, masih jauh sebelum kita bisa dapat even internasional dengan kategori “rated and sanctioned” oleh lembaga asosiasi surfing seperti ISA, ASF, atau WSL. Yang kemarin itu baru berupa open surfing contest yang terbuka untuk umum termasuk warga asing dengan entrance fee tertentu. Namun ini sangat menggembirakan dan merupakan langkah awal yang positif”.
Dari sisi penyelenggaraan Mark menambahkan: ”Cukup positif, cukup menghibur dan lancar. Perlu perencanaan jangka panjang yang dikomitmenkan oleh seluruh stakeholder pengembangannya. Dari sisi lokasi, kawasan Sorake sangat mendukung, baik untuk kompetisi dunia maupun pengembangan kepariwisataan Nias. Untuk itu, perlu perbaikan infrastruktur dan akses ke lokasi surfing”.
Kegembiraan ini merupakan sinyal positif yang harus direspon oleh pemangku kebijakan. Dengan konsep yang tepat, surfing bisa menjadi salah satu keunggulan wisata Nias dimana Sorake-Lagundri dapat diproyeksikan menjadi kawasan wisata surfing internasional. Untuk merealisasikan itu, diperlukan perencanaan jangka panjang dan konprehensif, disertai kerjasama dan komitmen pemerintah dan pihak terkait.
“Jangka pendeknya, kawasan ditata lebih memadai. Kalau musim hujan, kawasan ini kotor karena limbah parit dan kotoran kandang, sementara saluran dan sanitasi buruk. Dulu ada hotel dengan standar internasional dengan fasilitas air bersih PAM, sekarang tidak. Banyak lokasi surfing yang masih perlu sentuhan infrastuktur dan fasilitas”, saran Mark yang juga pendiri Nias Islands Association For Surfers (NIAS).
Selaras dengan geliat maju kepariwisataan Nias, perlu untuk mengantisipasi daya tampung Sorake. Pemda perlu mengembangkan kawasan wisata lain untuk membagi kepadatan ini demi kenyamanan wisatawan. Impian harus bisa digambarkan. Maka mari impikan Nias sebagai special interest destinasi para peselancar nasional dan internasional. Sekaligus, mengimpikan peselancar Nias bisa hadir pada Olimpiade Tokyo 2020 dimana olahraga selancar air akan dipertandingkan untuk pertama kalinya.
Pesta Belum Usai.
Pesta Ya’ahowu masih berlangsung. Namanya sebuah pesta, semua harus menikmati kegembiraan. Dari Selatan pesta bergerak ke kabupaten yang lain dengan harapan memboncengkan tambahan kunjungan wisatawan. Sambil terus bergerak, terus pula dibenahi antara lain masalah publikasi, jadwal acara yang pasti, pusat informasi terpadu, koordinasi serta pelibatan perusahan jasa wisata yang belum maksimal.
“Atraksi pada pembukaan menarik, meriah. Tetapi pengunjung acara masih sekitar masyarakat lokal dan wisataan yang sudah ada sebelumnya. Belum ada peningkatan signifikan kunjungan”, ujar Herwil Harefa seorang pengelola travel.
Diperlukan kreativitas, kesigapan dan loyalitas dalam memanfaatkan momentum agar pesta ini berbuah nyata. Seberapa jauh Pesta Ya’ahowu dapat menjual potensi wisata Nias? Berapa jumlah wisman dan wisnus diperkirakan dapat disumbangkan Nias untuk memenuhi target nasional 20 juta wisatawan tahun 2016 ini? Seberapa mampu pesta ini dimanfaat oleh pelaku usaha wisata dan secara ekonomi dinikmati masyarakat?.
Untuk menjadikan Nias sebagai destinasi nasional dan global perlu konsep yang konprehensif dan jangka panjang disertai komitmen melakukan pembinaan meliputi objek wisata, aksesibilitas, amenitas dan manajemen pengelolaan destinasi. Inilah langkah yang penting dan perlu dilakukan. Menjadikan Nias sebagai Pulau Impian, tidak cukup hanya dengan bermimpi. Meraih impian perlu langkah dan kerja. Selamat ber Pesta Ya’ahowu!.
Esther GN Telaumbanua adalah Ketua Yayasan Tatuhini Nias Bangkit (YTNB), Rumah Nias, tinggal di Jakarta
Editor : Eben E. Siadari
Risiko 4F dan Gejala Batu Kantung Empedu
JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Dokter spesialis bedah subspesialis bedah digestif konsultan RSCM dr. Arn...