Sidang Raya XVI PGI, Wapres RI: Shalom, Ya’ahowu Nias
GUNUNGSITOLI, SATUHARAPAN.COM – Wakil Presiden RI Jusuf Kalla dalam menyambut Sidang Raya XVI PGI, Selasa (11/11) mengajak seluruh masyarakat bersatu menyingkirkan perbedaan untuk membangun Indonesia lebih baik.
Kalla didampingi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Menteri Hukum dan Ham Hamonangan Yasonna Laoly menghadiri pembukaan SR PGI di lapangan dekat Pantai Siwalubanua II Gunungsitoli. Wapres datang sekitar pukul 11 setelah ibadah pembukaan selesai.
Ia disambut oleh ribuan warga Nias dan peserta SR yang sejak pagi menunggu-nunggu kedatangannya. Saat ia mengucapkan salam, “Shalom,” dan “Ya’howu”—sapaan khas Nias yang berarti seperti ‘Selamat datang, apa kabar’—dengan antusias hadirin membalas dengan sapaan yang sama.
Dalam sambutan tersebut pria yang akrab dipanggil JK itu mengungkapkan bahwa tema SR, “Tuhan Mengangkat dari Samudera Raya” (Mzm. 71:20b) sesuai dengan kebijakan pemerintah saat ini yang menekankan pembangunan di bidang kemaritiman. “Sebab, 70 persen wilayah kita terdiri dari samudra,” kata pria 72 tahun ini.
Kalla melihat bahwa selama beberapa tahun terakhir ini tingkat keimanan rakyat Indonesia meningkat. “Pertumbuhan gereja sangat pesat. Pertumbuhan pura juga pesat,” kata dia. Untuk itu, ia berharap tingkat keimanan ini menjadi inspirasi yang kuat bagi terwujudnya pembangunan yang menyejahterakan masyarakat Indonesia.
PGI Dukung Pembentukan Provinsi Kepulauan Nias
Pdt Andreas Yewangoe dalam sambutannya mengungkapkan bahwa PGI mendukung pembentukan Provinsi Kepulauan Nias, tetapi dengan syarat.
Syaratnya adalah pembentukan provinsi baru ini harus membuat pelayanan kepada masyarakat Nias lebih baik. Yang terutama, pembentukan provinsi baru tersebut, “Tidak boleh membuat meningkat primordial di Nias. Baik dalam bidang agama, maupun kesukuan,” kata Ketua Umum PGI dua periode tersebut.
Dalam sambutannya, Yewangoe juga mengungkapkan dukungan PGI untuk pembentukan Undang-undang Perlindungan Kebebasan Beragama. “Ini adalah perwujudan dari UUD 1945 pasal 29,” kata dia. Sebab, tiap umat beragama mempunyai ekspresi yang unik.
Insiden Berlari
Sambutan-sambutan yang panjang biasanya membosankan. Namun, kali ini menjadi menarik karena ada “insiden berlari”. Awalnya, saat diminta untuk memberi sambutan Martinus Lase, wali kota Gunungsitoli berlari kecil dari tempatnya duduk menuju podium yang berjarak sekitar 50 meter menyeberangi lapangan. Ternyata, sewaktu Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho mendapat giliran memberi sambutan, ia berlari lebih cepat.
Sehabis Gatot, giliran Ketua Umum PGI. Hadirin menduga ia juga akan berlari. Sempat terdengar, “Lari, lari, lari,” hadirin menyemangati A.A. Yewangoe. Namun, pria berumur 69 tahun ini memilih berjalan pelan. “Saya sudah ngos-ngosan jika berlari,” setiba di podium yang disambut tawa hadirin.
Pejabat berlari ini memang mengingatkan khalayak saat Presiden Joko Widodo mengumumkan nama-nama anggota kabinetnya. Ia meminta para menterinya untuk berlari ke samping presiden.
Giliran Jusuf Kalla. Ia ternyata juga memilih untuk berjalan. Ia beralasan, “Saya solider dengan Pak Yewangoe.” Tentu saja suara, "Grrr," dari hadirin membuat suasana makin cair.
Korban Pelecehan Desak Vatikan Globalkan Kebijakan Tanpa Tol...
ROMA, SATUHARAPAN.COM-Korban pelecehan seksual oleh pastor Katolik mendesak Vatikan pada hari Senin ...