Loading...
RELIGI
Penulis: Melki 21:04 WIB | Rabu, 03 Mei 2023

Tokoh Agama Daerah Bantu Kurangi Kepanikan Bencana

Ilustrasi - Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyalakan sirine tanda dimulainya simulasi evakuasi bencana gempa di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Rabu (26/4/2023). (HO-BNPB)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Humanitarian Forum Indonesia (HFI) menyatakan keterlibatan tokoh agama di suatu daerah sangat penting membantu menciptakan proses evakuasi lebih kondusif dan mengurangi kepanikan warga terdampak.

“Ayat-ayat dalam masing-masing kitab agama itu akan menjadi patokan bagi para tokoh agama untuk berkomunikasi dengan warga untuk memberikan kepastian,” kata Program Manajer HFI Widowati di Jakarta, Rabu (3/5).

Widowati membeberkan ketika berada di suatu daerah yang terdampak bencana, aspek keagamaan turut berperan penting dalam melakukan rehabilitasi kondisi beserta menguatkan para korban untuk bertahan.

Sayangnya dalam beberapa kasus, keagamaan justru menimbulkan sebuah stigma buruk yang mempersulit penyaluran bantuan pada masyarakat setempat.

Salah satu contoh konkret adalah ketika terjadinya Gempa di Palu pada tahun 2018 lalu. Widowati mengatakan ketika gempa melanda Palu, terdapat kelompok masyarakat yang justru menilai bencana terjadi sebagai hukuman dari Tuhan akibat perbuatan pihak tertentu.

Padahal daripada meributkan pandangan buruk yang mencoreng kerukunan tiap agama, hal penting yang harusnya dilakukan adalah menyatukan para warga untuk memulihkan kembali keadaan.

“Makanya ini terkadang jadi tantangan, kita akhirnya harus berbicara bersama tokoh agama. Ini juga menjadi ketakutan untuk orang di luar kelompok yang dimaksud, padahal mereka sama-sama kena dan terdampak juga,” ujarnya.

Widowati menekankan dengan adanya masalah seperti itu, para tokoh agama bisa meluruskan pandangan buruk yang meresahkan warga sesuai dengan ajarannya masing-masing. Selain itu, tokoh agama juga amat membantu dalam menumbuhkan sikap kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

Para tokoh agama katanya, mampu menjaga keseimbangan dalam masyarakat yang tidak hanya menggunakan pendekatan ilmiah saja, melainkan juga pendekatan spiritual yang menggunakan bahasa agama untuk mengkomunikasikan seberapa penting mengetahui langkah-langkah mengantisipasi diri dari dampak buruk bencana.

Misalnya, melalui mensosialisasikan fungsi sementara rumah ibadah, yang biasanya dijadikan tempat untuk mengevakuasi korban bencana.

“Kita harus melihat bahwa Indonesia memiliki enam agama. Semuanya mempunyai hak yang sama, jadi meskipun mereka merupakan bagian dari minoritas, harus tetap kita fasilitasi, jadi itulah pentingnya pendekatan kepada para tokoh agama,” katanya.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home