Betapa Mulianya Nama-Mu!
Allahlah pusat penyembahan manusia.

SATUHARAPAN.COM – ”Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (Mzm. 8:1).
Dalam mazmurnya, Daud menegaskan bahwa pusat keagungan adalah Tuhan, bukan manusia. Allahlah pusat penyembahan manusia. Masalahnya: yang sering terjadi bukan Allah yang disembah, tetapi manusia. Lebih sering lagi, diri sendirilah yang disembah.
Hikmat Allah
Daud cukup punya alasan untuk pengakuan imannya itu. Jika dibanding dengan ciptaan lain, Allah peduli dan ingin memberikan yang terbaik bagi manusia. Dia memahkotai manusia dengan kemuliaan dan hormat. Hanya kepada manusialah Tuhan mengaruniakan hikmat. Dan itulah yang membedakannya dari makhluk lain.
Dan penulis Amsal menyatakan bahwa hikmat Allah itu telah ada sejak permulaan zaman (Ams. 8:22). Dia tak sekadar kuasa, melainkan pribadi nyata. Penulis juga menyatakan bahwa hikmat Allah berperan dalam penciptaan dan membimbing manusia untuk mengenal Allah.
Dengan kata lain, hikmat Allah bekerja dalam diri manusia agar mampu memenuhi panggilannya selaku ciptaan Tuhan yang mulia. Hikmat itu pulalah yang memampukan manusia untuk memandang hidupnya melalui sudut pandang Sang Pencipta. Itu hanya mungkin terjadi kala manusia bersekutu dengan Allah dan tunduk pada kehendak Allah.
Roh Kebenaran
Persekutuan dengan Allah mutlak penting! Persekutuan dengan-Nya akan membuat kita peka akan suara Allah. Selanjutnya, kita akan memahami seluruh kebenaran.
Itulah yang ditekankan penginjil Yohanes. Roh Kudus, yaitu Roh Kebenaran, akan memimpin manusia dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13). Persoalannya: apakah manusia terbuka akan karya Roh Kudus? Tanpa keterbukaan itu, manusia mustahil memahami seluruh kebenaran!
Roh Kuduslah yang memampukan manusia mengenal kasih Allah Bapa melalui pengurbanan Allah Anak. Itu hanya mungkin terjadi jika dan hanya jika manusia manusia merelakan diri dipimpin Roh Kudus.
Tritunggal Mahakudus
Ketika merayakan Minggu Tritunggal Yang Mahakudus, 22 Mei 2016, baiklah kita insyaf, rumusan Tritunggal bukanlah sekadar pemuas intelektual manusia. Rumusan itu seharusnya memampukan kita lebih mengasihi Allah. Ketritunggalan Allah bukan untuk diperdebatkan, tetapi agar manusia lebih mengenal dan mengasihi Allah.
Berkait dengan perenungannya soal ketritunggalan Allah, Paulus juga menyinggung hal penderitaan. Sebab dalam penderitaan manusialah kasih Allah nyata. Sehingga, pada akhirnya bersama dengan Daud kita dapat memuji: ”Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi.”
Email: inspirasi@satuharapan.com
Editor : Yoel M Indrasmoro

Penerima KJP hingga Lansia Gratis Masuk Museum
JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan layanan masuk museum secara gr...