Demonstran Turun ke Jalan di Berbagai Kota
Protes digelar karena politisi tak mampu atasi krisis ekonomi dan politik, mata uang jatuh pada nilai terendah.
BEIRUT, SATUHARAPAN.COM- Ratusan demonstran turun ke jalan di seluruh Lebanon pada hari Selasa (2/3) untuk memprotes ketidakmampuan politisi yang mengakibatkan keruntuhan ekonomi negara terus berlanjut, dan mata uang lokal mencapai titik terendah sepanjang masa.
Para pemrotes memblokiran jalan, dan aksi mereka terjadi di beberapa kota besar dan kecil, termasuk di luar ibu kota Beirut.
Pound Lebanon, yang telah dipatok terhadap dolar Amerika Serikat sejak 1997, diperdagangkan pada hampir 10.000 terhadap dolar di pasar gelap pada hari Selasa, menurut laporan Al Arabiya.
Mata uang lokal anjlok selama lebih dari setahun dan politisi gagal menyetujui rencana yang memungkinkan bantuan internasional dari Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, dan donor asing lainnya untuk membantu memulihkan ekonomi.
Ketidak-pastian di Lebanon
Lebanon juga menghadapi ketidakpastian politik dan ekonomi sejak Oktober 2019 setelah pengunduran diri Perdana Menteri Saad Hariri menyusul serangkaian protes anti pemerintah yang digelar secara nasional.
Aktivis Widad Taleb mengatakan kepada Al Arabiya bahwa sudah waktunya bagi partai politik baru dan kelompok alternatif untuk memimpin koreksi kesalahan elite politik saat ini.
“Sejujurnya, tidak ada alternatif untuk menyelesaikan krisis yang dihadapi negara tanpa menjatuhkan seluruh kelas penguasa,” kata Taleb.
Ali Noureddine, aktivis lainnya, percaya bahwa perubahan hanya mungkin terjadi melewati sistem saat ini dalam pemilu mendatang.
“Solusi menurut saya adalah penyatuan semua kekuatan alternatif baru, meskipun pilihan turun ke jalan sulit; Saya percaya bahwa perubahan itu mungkin. Kita harus mengatur platform alternatif terpadu ini untuk bertarung dalam pertempuran elektoral berikutnya, termasuk pemilihan kota dan parlemen,” kata Noureddine. Pemilihan parlemen dijadwalkan untuk tahun depan.
Sementara itu, Lebanon menghadapi masalah pemadaman listrik yang meningkat karena Bank Sentral menunda pembayaran untuk subsidi bahan bakar yang didukung pemerintah, karena menipisnya cadangan dalam mata uang asing. (Reuters/Al Arabiya)
Editor : Sabar Subekti
Kremlin: AS Izinkan Ukraina Gunakan Senjata Serang Rusia Mem...
MOSKOW, SATUHARAPAN.COM-Kremlin mengatakan pada hari Senin ( 18/11) bahwa pemerintahan Presiden Amer...