Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 13:24 WIB | Jumat, 05 September 2014

HRW: NIIS Lakukan Beberapa Kali Eksekusi Massal

Lokasi esksekusi teridentifikasi dari foto, citra satelit dan keterangan saksi; Jumlah korban diperkirakan tiga kali lipat dari yang tercatat; Ditemukan bukti baru tentang tiga lokasi baru eksekusi massal
Ali, satu di antara yang selamat dari eksekusi massal di Istana Presiden di Tikrit, Irak, terlihat di antara sekitar 60 orang yang ditangkap, seperti ditunjukkan dalam hasil srceenshot video yang diposting NIIS. (Foto: dari HRW)

ERBIL, SATUHARAPAN.COM - Bukti baru menunjukkan bahwa Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) melakukan banyak eksekusi massa  di Provinsi Tikrit, Irak setelah mereka merebut kota itu pada Juni lalu. Korban NIIS diperkirakan naik tiga kali lipat dan ditemukan lokasi baru pelaksanaan eksekusi.

Lembaga pegiat hak asasi manusia, Human Rights Watch (HRW), hari Selasa (2/9) menyebutkan bahwa informasi dari korban dan analisis video serta citra satelit memperlihatkan ada tiga lagi lokasi  eksekusi massal, sehingga total menjadi lima lokasi.

HRW menyebutkan bahwa jumlah korban meninggal menjadi antara 560 dan 770 pria, semua atau sebagian besar dari mereka adalah tentara Irak.

Informasi ini menunjukkan ada lebih banyak eksekusi  yang telah dikonfirmasi, kata Peter Bouckaert, Direktur Keadaan Darurat HRW. "NIIS bertindak barbar dan melanggar hukum serta sangat menyinggung hati nurani,” katas dia.

Lokasi Eksekusi

Militan NIIS  yang juga dikenal sebagai ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), membunuh  160 hingga 190 orang di dua lokasi eksekusi yang diidentifikasi HRW. Angka korban diperkirakan naik dengan makin bertambahnya bukti.

NIIS  yang menguasai Tikrit pada 11 Juni, dan sehari kemudian mengklaim mengeksekusi  1.700 "anggota tentara Syiah"  dan memposting video tentang ratusan orang yang ditangkap. Foto-foto itu  kemudian diposting di media sosial menunjukkan militant NIIS menyuruh tawanan sipil naik truk dan memaksa mereka berbaring di tiga parit dangkal dengan tangan mereka terikat. Beberapa gambar lain menunjukkan orang-orang bersenjata mengenakan topeng menembakkan senjata pada orang-orang itu.

Berdasarkan analisis citra satelit dan foto-foto itu, HRW menyimpulkan pada 27 Juni, ada dua lokasi eksekusi, termasuk  di lapangan sekitar 100 meter utara Istana Air di Tikrit.  Namun lokasi parit ketiga tidak teridentifikasi.

Analisis terbaru menunjukkan ada tiga lokasi baru dengan korban antara 285 hingga 440 orang. Tiga lokasi itu termasuk tembok utara  gedung Saladdin Al Ayubi dalam kompleks Istana Presiden di Tikrit. HRW juga mengidentifikasi adanya kuburan masal, dan sisa darah di lokasi.

Keterangan Saksi

Seorang korban yang selamat, Ali (23 tahun), mengatakan kepada HRW bahwa dia ditangkap pada 12 Juni bersama ribuan orang lain di jalan utama dari pangkalan militer Spiecher. Prajurit dan perwira lainnya telah menyarankan dia untuk memakai pakaian sipil untuk mencoba untuk menghindari pemeriksaan oleh NIIS.

Video rekaman yang dirilis NIIS mendukung keterangan saksi itu bahwa ribuan orang ditangkap dan digiring ke Tikrit, dikawal oleh pasukan NIIS. Ali mengatakan bahwa kelompok NIIS beranggota sekitar 100 orang menangkap pria di dekat  Universitas Tikrit, dan mengatakan bahwa mereka akan dipulangkan tanpa terluka. Namun militant NIIS justru mengambil telepon mereka, juga uang dan mengusir mereka.

Di sana, kata Ali, dia dimasukkan dalam satu container bersama 100 tahanan lain selama enam jam. Dua di antara mereka meninggal karena berdesak-desakan. Kemudian mereka diturunkan dan dipisah-pisah. Dia bersama kelompok beranggota Sembilan orang.

Ali menceritakan mendengar suara tembakan di lokasi eksekusi. Para tahanan diikat tangannya di punggung dan mata mereka ditutup. Mereka dipaksa berjongkok dan berbaris sepuluh orang, kemudian militant ISIS menembak mereka dengan pistol, satu demi satu.

Ali mengatakan bahwa dari balik penutup matanya dia melihat pria di sampingnya jatuh dan bersimbah darah, dan dia ikut terjatuh, serta berpura-pura mati, kemudian melarikan diri dalam kegelapan.

Eksekusi di Istana Air

HRW juga menyebutkan ada dua lokasi eksekusi di sekitar Istana Air dengan korban antara 235 hingga 285. Di lokasi itu diperkirakan telah empat kali dilakukan eksekusi missal.

HRW juga memeriksa keberadaan kuburan massal dengan ratusan korban. NIIS menggunakan buldoser untuk mengubur mereka dan menutupinya dengan tanah, namun ada beberapa kasus yang menunjukkan  jenazah korban masih terlihat.

Pegiat HAM ini terus menyelidiki eksekusi massal oleh NIIS, termasuk  mengumpulkan bukti-bukti terbaru, serta memperkirakan jumlah korban lebih banyak dari yang diperkirakan.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home