Loading...
DUNIA
Penulis: Eben E. Siadari 08:09 WIB | Selasa, 12 Januari 2016

PBB Akui Terjadi Kelaparan Parah di Wilayah ISIS di Suriah

Foto dokumentasi yang menunjukkan anak-anak Suriah mengantri untuk mendapatkan makanan (Foto: scrapetv.com)

AMMAN, SATUHARAPAN.COM - Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan pekerja badan bantuan kemanusiaan mengakui melihat orang-orang yang kelaparan di dua wilayah Suriah yang terkepung, ketika badan PBB mengirimkan bantuan.

Konvoi bantuan memasuki kota Madaya, yang dikepung oleh pasukan pemerintah, di mana ribuan warga telah terperangkap selama berbulan-bulan tanpa persediaan makanan dilaporkan banyak yang meninggal karena kelaparan.

Yacoub El Hillo, koordinator kemanusiaan PBB di Suriah yang berada di Madaya mengawasi operasi untuk mendistribusikan makanan bagi lebih dari 40.000 orang, mengatakan telah menerima laporan, yang tidak dapat dikonfirmasi, bahwa setidaknya 40 orang telah meninggal karena kelaparan.

"Kami telah melihat dengan mata kami sendiri anak-anak dengan gizi buruk. Saya yakin ada juga orang tua yang kekurangan gizi  dan memang benar mereka kekurangan gizi, dan memang ada bala kelaparan," kata dia kepada Reuters melalui telepon dari Madaya.

Dia mengatakan pekerja badan bantuan PBB juga telah melihat kasus kelaparan di al Foua dan Kefraya.

Ini adalah dua desa yang warganya sebagian besar adalah Syiah, dikepung oleh pemberontak. Jumlah penduduk di sana sekitar 20.000 orang. Mereka juga menerima pengiriman makanan dan keperluan lainnya yang dibawa oleh konvoi pada Senin. Pengiriman bantuan baik untuk Madaya dan Foua dan Kefraya di provinsi barat laut Idlib,  melibatkan 65 truk yang sarat dengan obat-obatan dan makanan.

Operasi skala besar lain untuk memberikan gandum, tepung, obat-obatan dan barang-barang non-makanan untuk daerah-daerah akan selesai pada hari Kamis, kata El Hillo.

Reuters mencatat puluhan orang dikatakan telah meninggal karena kelaparan atau kekurangan perawatan medis diwilayah yang dikuasai oleh pemberontak Madaya dan aktivis mengatakan beberapa penduduk telah terpaksa memakan daun-daunan dan rumput. Foto-foto yang menggambarkan warga kurus kering karena kelaparan telah muncul secara luas di media sosial.

Pemerintahan Presiden Bashar al-Assad membantah memblokade kota. Sebaliknya, mereka menuduh pemberontak melakukan penimbunan makanan dan menyalahkan mereka sebagai penyebab penderitaan warga sipil.

El Hillo mengatakan para pekerja badan bantuan di wilayah yang dikuasai pemberontak di Madaya akan menangani operasi distribusi makanan dengan cara yang dapat diterima, meskipun PBB tidak akan berada di sana.

"Ada cara yang cukup terorganisir untuk mendaftarkan keluarga, dan masyarakat itu sendiri akan memainkan peran yang sangat penting dalam memastikan bahwa makanan sampai ke orang yang tepat," kata dia.

Operasi disepakati oleh pihak yang bertikai, dan dilakukan bersama-sama oleh PBB, Komite Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Suriah. Menyediakan makanan yang cukup untuk satu bulan hanya merupakan langkah pertama, kata El Hillo.

"Bagi orang-orang yang telah kelaparan, ini akan habis dengan sangat cepat, sehingga kita harus mampu untuk terus memberikan bantuan kemanusiaan kepada orang-orang di komunitas-komunitas yang dikepung secara terus menerus," kata dia.

El Hillo mengatakan ada setidaknya 400.000 warga Suriah yang tinggal di daerah terkepung, setengah di antaranya berada di wilayah yang dikendalikan ISIS di provinsi utara Deir Zor dan sisanya terutama di daerah yang dikuasai pemberontak di pinggiran selatan ibukota Suriah, Damaskus.

"Kita harus mendapatkan akses ke semua warga Suriah di semua bagian dari Suriah untuk membantu mengurangi dampak krisis terhadap rakyat," kata pejabat PBB yang berbasis di Damaskus.

Sebuah komisi penyelidikan PBB mengatakan pengepungan telah digunakan oleh pihak yang bertikai "secara kejam dengan terkoordinasi dan terencana" di Suriah, dengan tujuan memaksa penduduk, secara kolektif, untuk menyerah atau menderita kelaparan.

"Pengepungan adalah hal yang mengerikan dan yang seharusnya tidak terjadi dan ketika itu terjadi orang menderita dan ini adalah apa yang kita lihat sekarang dengan mata kita sendiri. Ini bukan karena media sosial telah menyebarkannya, kami melihatnya sendiri," kata El Hillo.

 

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home