Loading...
RELIGI
Penulis: Endang Saputra 08:22 WIB | Selasa, 10 Mei 2016

PBNU Sebut Dua Kelompok Islam Ekstrem yang Berbahaya

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah (Foto: Endang Saputra)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyampaikan pidato pembukaan (iftitah) dalam forum International Summit of The Moderate  Islamic Leaders atau Isomil yang diselenggarakan oleh PBNU di Jakarta Convention Center, hari Senin (9/5).

Dalam pidato yang disampaikan dalam bahasa Arab, Rais Aam Nahdlatul Ulama menjelaskan adanya dua model kelompok ekstremis dalam memahami ajaran agama Islam. Kedua kelompok ini sama-sama berbahaya dan tidak layak diikuti.

Pertama, kata Ma’ruf Amin, kelompok yang kaku dan keras dalam memahami agama. Mereka adalah orang-orang yang terpaku hanya pada satu pendapat dalam menentukan masalah halal dan haram, mengambil hukum secara tekstualis dengan tanpa membandingkan dengan pendapat atau dalil lain. Mereka ini memperluas lingkaran hukum haram, mengacuhkan tujuan diadakannya hukum  atau maqashid syariah.

“Mereka membawa umat pada kesulitan, dan mempersulit apa yang Allah mudahkan juga mempersempit apa yang agama lapangkan, tidak mengenal akan  kemudahan. Mereka ini tidak menerima pendapat yang bertentangan dengan pendapatnya, dan berpendapat bahwa semua yang tidak beragama Islam wajib dibunuh hingga masuk Islam atau memberikan jizyah (upeti). Mereka ini berpendapat bahwa hubungan muslim dan non-muslim pada aslinya adalah pertempuran atau permusuhan, bukan kedamaian  dan hidup berdampingan,” kata KH Ma’ruf Amin.

Kelompok kedua merupakan kebalikan dari yang pertama. Mereka terlampau menggampangkan segala hal. Mereka beranggapan tidak ada kepastian-kepastian dalam agama, tetapi semuanya bisa ditinjau ulang. Mereka ini terlalu silau dengan Barat dan tunduk patuh bada Barat, seakan Islam itu harus mengikuti Barat, baik falsafahnya dan cara hidupnya.

“Di tangan mereka agama menjadi lunak dan lembek yang dapat mereka bentuk sesuai keinginan mereka, mereka menolak fiqh, ushul dan para imamanya, dan bermain-main dengan hadits dan mengingkari bahkan mengacuhkan Alquran dan tafsirnya,” kata KH Ma’ruf Amin.

Kedua kelompok ini merupakan gambaran kelompok yang berlebihan yang tersebar luas di banyak negara Islam. Mereka menggunakan media informasi modern dalam upayanya menipu sebagian besar umat islam, terutama pemudanya.Untuk membatasi kelompok ini seyogyanya kita juga menggunakan media informasi lainnya.

Disampaikan KH Ma’ruf Amin, Dakwah Islam moderat merupakan dakwah keberagamaan yang menjaga kemudahan bukan menyulitkan, memberi kabar gembira bukan hanya menakut-nakuti, dengan lemah lembut bukan kasar, saling mengenal bukan menjauhkan, toleransi bukan fanatisme golongan, isi bukan bungkus, yang menerima pembaharuan tidak kaku, jelas tidak kabur, moderat bukan berlebihan dan menggampangkan, tidak fundamentalis dan liberalis.

“Imam As-Syathibi berkata, syariat berjalan atas ketentuan yang ditetapkan pada jalan tengah dan adil, yang diambil dari dua sisi yang tidak miring di keduanya, yang masuk pada kemampuan hamba tanpa memberatkan dan melepaskan, akan tetapi ketentuan yang menjaga keseimbangan yang menuntut pemeluknya seimbang, seperti tuntutan untuk shalat puasa haji jihad zakat dan lain sebagainya,” kata dia seperti dikutip dari nu.or.id.

Ia menambahkan, kehadiran para tokoh pemimpin Islam dari berbagai negara dalam konferensi internasional Isomil ini bertujuan untuk menjaga gerakan dakwah moderat di lingkungan negara masing-masing sehingga tercipta umat Islam yang moderat di seluruh penjuru dunia  terutama di negara-negara Muslim.

Forum International Summit of The Moderate  Islamic Leaders atau Isomil PBNU dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Senin pagi dan akan berlangsung sampai besok. Forum bertema “Islam Nusantara: Inspirasi dan Solusi untuk Peradaban Dunia” yang dihadiri para pemimpin umat Islam dari 35 negara yang tersebar di Asia, Timur Tengah, Eropa, Afrika dan Amerika.

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home