Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 10:47 WIB | Kamis, 21 Desember 2023

Petinggi Israel, Qatar dan AS Bertemu Bahas Gencatan Senjata di Gaza

Orang-orang berjalan melewati dinding dengan poster yang menggambarkan orang hilang, pada hari demonstrasi yang diserukan oleh ibu-ibu sandera yang diculik dalam serangan mematikan 7 Oktober oleh kelompok Islam Palestina Hamas, di tengah gencatan senjata sementara, di Tel Aviv, Israel, 30 November 2023. (Foto: dok. Reuters)

WARSAWA, SATUHARAPAN.COM-Pertemuan antara Perdana Menteri Qatar dan kepala agen mata-mata Israel Mossad dan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat pada hari Senin (18/12) mengenai langkah-langkah untuk membebaskan lebih banyak sandera Hamas adalah hal yang positif tetapi tidak ada kesepakatan yang akan segera terjadi, sebuah sumber yang menjelaskan tentang upaya diplomatik tersebut mengatakan.

Ketiganya bertemu di ibu kota Polandia, Warsawa, untuk membahas kemungkinan kesepakatan baru guna menjamin pembebasan sandera Israel yang ditahan di Gaza dengan imbalan kemungkinan pembebasan warga Palestina di penjara-penjara Israel dan “jeda kemanusiaan” dalam perang Gaza.

“Pembicaraan berlangsung positif karena para negosiator menjajagi dan mendiskusikan berbagai proposal dalam upaya untuk mencapai kemajuan dalam negosiasi,” kata sumber tersebut kepada Reuters. Namun, kesepakatan tidak diharapkan terjadi dalam waktu dekat.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (19/12), Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan dia “telah mengirim kepala Mossad ke Eropa dua kali untuk mempromosikan proses pembebasan sandera kami,” tanpa memberikan rincian tentang apa yang dibahas.

“Saya tidak akan menyia-nyiakan upaya mengenai masalah ini dan tuntutannya adalah memulangkan semua orang,” kata Netanyahu. CIA menolak berkomentar.

Pembicaraan antara Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, yang juga menjabat sebagai menteri luar negeri negara Teluk tersebut, Direktur Mossad, David Barnea, dan Direktur CIA, Bill Burns, menyusul pertemuan ketiganya di Eropa pekan lalu.

Qatar mengatakan pihaknya berupaya memperbaiki kesepakatan gencatan senjata kemanusiaan yang gagal setelah sepekan pada tanggal 1 Desember, dan mendorong diakhirinya perang Israel-Hamas yang telah berlangsung lebih dari dua bulan dan telah menyebabkan bencana kemanusiaan di Gaza.

Qatar dan Mesir adalah mediator antara Israel dan Hamas dalam gencatan senjata akhir November lalu, di mana Hamas membebaskan 110 perempuan, anak-anak dan orang asing yang ditahannya dengan imbalan 240 perempuandan remaja Palestina yang dibebaskan dari penjara Israel.

Jihad Islam Rilis Video Dua Sandera

Brigade Al Quds, sayap bersenjata gerakan Jihad Islam Palestina, merilis video dua sandera pria Israel di Gaza yang memohon pembebasan mereka di akun Telegram mereka pada hari Selasa (19/12).

Kedua pria tersebut mengidentifikasi diri mereka sebagai Gadi Moses dan Elad Katzir dan muncul dalam video pendek meminta upaya untuk diintensifkan agar mereka dapat bersatu kembali dengan keluarga mereka.

“Kami sekarat setiap saat. Kami berada dalam situasi yang tak tertahankan,” kata Moses sambil menatap kamera dengan latar belakang polos. Kedua pria tersebut sama-sama tidak bercukur dan tampaknya mengalami penurunan berat badan.

Moses adalah seorang petani berusia sekitar 79 tahun yang ditangkap dari kibbutz pada 7 Oktober ketika kelompok militan Hamas mengamuk di Israel selatan. Katzir, 47 tahun, juga diambil dari kibbutz bersama ibunya, yang kemudian dibebaskan. Ayahnya terbunuh, menurut laporan media.

Pada hari Senin, Hamas merilis sebuah video pendek yang menunjukkan tiga sandera lansia Israel lainnya yang ditangkap oleh kelompok milisi tersebut saat mengamuk, ketika mereka menyandera sekitar 240 orang. Israel mengecamnya sebagai “video kriminal dan teroris.”

Israel dan Hamas menyetujui gencatan senjata selama sepekan pada akhir November, yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir, yang mencakup pembebasan lebih dari 100 sandera dari Gaza dengan imbalan 240 wanita dan remaja Palestina dari penjara-penjara Israel.

Beberapa sandera yang masih berada di Gaza telah dinyatakan meninggal secara in-abstia oleh otoritas Israel.

Ketua Hamas Ke Mesir Bahas Gencatan Senjata

Ketua Hamas, Ismail Haniyeh, dijadwalkan mengunjungi Mesir pada Rabu untuk melakukan pembicaraan mengenai gencatan senjata di Gaza dan pertukaran tahanan dengan Israel, kata sebuah sumber yang dekat dengan kelompok militan Palestina.

Haniyeh yang berbasis di Qatar akan memimpin delegasi “tingkat tinggi” Hamas ke Mesir, di mana ia akan mengadakan pembicaraan dengan kepala intelijen Mesir, Abbas Kamel, dan lainnya, kata sumber itu kepada AFP pada hari Selasa (19/12).

Diskusi tersebut akan membahas “menghentikan agresi dan perang untuk mempersiapkan kesepakatan bagi pembebasan tahanan (dan) berakhirnya pengepungan yang diberlakukan di Jalur Gaza,” kata sumber yang tidak ingin disebutkan namanya karena dia tidak berwenang untuk berbicara tentang kunjungan itu.

Menurut sumber Hamas, pembicaraan di Mesir akan fokus pada “pengiriman bantuan kemanusiaan, penarikan tentara Israel dari Jalur Gaza dan kembalinya para pengungsi ke kota dan desa mereka di utara”.

Kunjungan Haniyeh akan menjadi yang kedua ke Mesir sejak dimulainya perang pada 7 Oktober, setelah kunjungan sebelumnya pada awal November.

Platform berita AS, Axios, pada hari Senin melaporkan bahwa David Barnea, kepala badan intelijen Israel Mossad, bertemu dengan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani dan direktur CIA Bill Burns di Eropa untuk membahas potensi kesepakatan baru untuk membebaskan sandera.

Pada hari Selasa, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dia “baru saja mengirim pimpinan Mossad ke Eropa dua kali untuk mempromosikan proses pembebasan sandera kami.”

“Saya tidak akan menyia-nyiakan upaya mengenai masalah ini, dan tugas kita adalah mengembalikan mereka semua,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Bertemu dengan keluarga sandera pada hari Selasa (19/12), Netanyahu mengatakan “menyelamatkan mereka adalah tugas tertinggi.”

Kemarahan, ketakutan dan seruan gencatan senjata dari keluarga sandera semakin meningkat setelah pasukan Israel di Gaza secara keliru menembak mati tiga sandera yang melarikan diri dari para penculiknya.

Perang paling mematikan yang pernah terjadi di wilayah sempit ini dimulai setelah militan Hamas menyerbu perbatasan pada 7 Oktober dan menewaskan sekitar 1.140 orang di Israel, sebagian besar warga sipil, menurut penghitungan AFP berdasarkan angka resmi terbaru Israel.

Selama serangan mereka, militan menculik sekitar 250 orang, menurut data terbaru Israel. Dalam serangan balasan dan serangan darat Israel terhadap Hamas, setidaknya 19.667 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, tewas di Gaza, menurut kementerian kesehatan di wilayah Palestina. (Reuters/AFP)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home