Loading...
OPINI
Penulis: Dr. Martin Lukito Sinaga 00:00 WIB | Kamis, 22 Oktober 2015

Reposisi Umat Kristiani di Hadapan Islam Nusantara

SATUHARAPAN.COM – Wacana Islam Nusantara yang mengemuka akhir-akhir ini sungguh patut dibawa masuk ke dalam percakapan lintas-agama, juga ke dalam komunitas Kristiani. Sudah cukup lama pertemuan lintas-agama seperti Islam-Kristen di Indonesia digiring ke ranah politis; kita dengan mudah mencatat isu politisnya, dari soal-soal kerusuhan pasca Reformasi 1998 sampai ihwal pendirian rumah ibadah. Tapi dengan wacana Islam Nusantara ini dinamika lintas-agama akan jadi baru, sebab yang diretas ialah soal lingkup pengaruh agama-agama dalam pembentukan kenyataan sosial di lapangan kehidupan nyata sehari-hari.

Umat Kristiani pun patut memperhitungkan dinamika baru islam Indonesia dengan dicanangkannya Islam Nusantara ini. Dengannya, gereja dapat merancang secara baru responsnya, yang menurut saya akan membebaskannya dari perasaan gugup sebagai minoritas, sebentuk perasaan yang muncul akibat serba politisnya relasinya dengan Islam selama ini. Walau tentu mesti ada sinyal atau gelagat konstruktif gerejawi yang baru yang dilakukannya. Momennya untuk rekonstruksi juga pas, sebab akhir-akhir ini dari ujung Barat sampai Timur Indonensia telah terjadi pemilihan baru para pemimpin gereja-gereja Indonesia.

'Islam Nusantara' ialah mengenai ekspresi unik dan pengakaran khas Islam dalam ruang dan sejarah Indonesia. Telah terbentuk tradisi khas Islam Indonesia setelah berabad-abad menempuh proses "take and give" dengan serat-serat budaya di Nusantara ini. Pembentukan tradisi kontekstual itu dimungkinkan terutama oleh watak sufistik Islam Indonesia, yang selanjutnya telah menciptakan identitas Islam yang moderat dan toleran.

Bahkan, Islam Nusantara telah membentuk realitas sosial "modern" dengan gagasan barunya mengenai masyarakat. Dari Kiai Agus Sunyoto saya mendengar bahwa gagasan mirip "citizen" lahir dari karya Syekh Lemah Abang. Ia memprakarsai komunitas mandiri, yang bebas dari sistem sosial serba "kawulo-gusti", dan di situ setiap orang diperbolehkan memilih dan meningkatkan status sosialnya sendiri. Nusantara telah diberi corak baru oleh daya rohani Islam itu sendiri. Sebentuk masyarakat merdeka telah terukir di Nusantara -mirip dengan borjuasi Eropa-, dan ini tentu saja telah memudahkan Islam dan bangsa ini menjadi modern. 

Atas semua diskursus ini, tentu baik juga kalau ditanya: bagaimanakah memerikan umat kristiani Indonesia dalam proses mengakarkan dirinya ke dalam realitas sosial di negeri ini. Adakah Kristen Nusantara?

 

Nusa Gereja-Suku

Di kalangan umat Kristiani telah pula niat mengakar di Nusantara dicanangkan -malah secara teologis pendiri Sekolah Tinggi Teologi Jakarta sejak tahun 1930-an mengupayakan 'teologi in loco"-, sebentuk pempribumian teologi Barat agar tidak terasa asing itu.

Dengan demikian gereja-gereja yang semula tumbuh dalam berbagai pot dan berpostur bonsai itu, hendak ditanam ulang di tanah subur negeri ini. Dari proses tanam-menanam itu memang telah pula terbentuk pulau-pulau gereja-suku yang tersebar di seantero Nusantara ini. Apakah selanjutnya telah terbentuk semacam Kristen Nusantara yang coraknya terasa dari "Sabang sampai Merauke"? Terasa sulit menjawab dengan positip hal ini, dan itu terkait proses perkembangan tradisi kristiani Indonesia yang belum jelas hendak beranjak kemana. Kemandegan perkembangan tradisi kristiani yang bisa melintas di nusantara terjadi antara lain karena pulau-pulau gereja suku itu cenderung berhenti pada dirinya.

Gereja suku lahir dari gagasan romantisme badan zending dan para misionaris abad XIX -ribuan jumlahnya datang dari Eropa menginjili di Nusantara- yang berharap bahwa seluruh kehidupan budaya suku-suku di Indonesia akan dikristenkan. Ada proses pertumbuhan organik yang diharapkan terjadi dalam suku bangsa tadi, dan dibayangkan sebagai hasilnya akan tumbuh pohon baru, semacam sosok "Kristen-Batak" atau "Kristen-Toraja". Maka memang diperlukan isolasi di sini, agar terjamin kemunculan identitas yang kompak namun baru itu.

Studi Hasselgren (2000) tentang komunitas orang Batak-Protestan ke Medan di awal abad XX mengisahkan tentang karakter kompak komunitas itu. Pengalaman kultural membangun desa mandiri, harajaon, membuat mereka membayangkan bahwa di kota Medan pun hal itu harus terjadi, sementara asupan kristianitas yang mereka terima membuat mereka dengan mudah menyerap ide kemajuan.

Saat gereja pertama mereka dirikan di Medan maka itu berarti bahwa roh harajaon itu telah datang dan bermukim ke dunia rantau. Maka mereka terus semangat membangun rumah-rumah mereka mengitari gereja tadi dan tak berniat pulang sama sekali. Sementara itu ide kemajuan telah pula meyakinkan mereka untuk terus meretas dan memenangkan dunia urban itu. Tapi jelas pula akibatnya: tradisi kompak Kristen-Batak itu tak akan direntang apalagi dijalin dengan tradisi tetangganya yang Melayu dan muslim.

Membandingkannya dengan studi Budi Susanto SJ (1989) tentang komunitas Katolik-Batak, segera terasa bahwa orang Batak telah menemukan dalam gereja Roma Katolik itu "sahala" atau wibawa, suatu unsur penting dan impian utama orang Batak. Dan "sahala" Katolisisme itu membuat mereka bisa berharap akan mendapat kekayaan sampai pandai bicara.

Dengan kata lain tradisi yang berkembang di situ ialah berputarnya agama Kristiani demi memenuhi impian-impian masyarakat lokal, dan sejarah gereja lokal itu akan bergerak seputar pemenuhan impian itu. Niat membagikan suasana Katolik-Batak secara interkultural ke komunitas lainnya akan terhempang, karena impian suku-suku lain tentang Katolisisme tentu amat berbeda. Pulau-pulau atau nusa gereja-suku memang telah mempercepat pengakaran agama Kristen, namun sekaligus membuatnya berputar di dalam tembok dan urusan etnis tertentu saja.

Minoritas Tidak Menonjol

Dalam studi Myengkyo Seo tentang Gereja Kristen Jawa/GKJ (2013), ia mencatat bahwa akhir-akhir ini terjadi proses baru di dalam gereja-suku itu. Ada satu GKJ di Solo-Surakarta yang punya alamat dan halaman yang sama dengan masjid Al-Hikmah. Saat Idul Adha misalnya, warga GKJ akan ikut berpesta dan berbagi daging kurban, dan tentulah ibadah pagi gereja dipindahkan ke sore hari.

Suatu saat ada permohonan dari pendeta agar suara adzan sedikit dikecilkan karena akan berlangsung penahbisan pendeta yang baru. Menjawab permohonan itu ternyata pihak mesjid sama sekali tidak menyalakan pengeras suara hari itu, dengan alasan mereka tokh bisa mendengar panggilan itu dari mesjid di tempat yang lain. Ketika ditanya apa gerangan sebabnya sehingga pihak mesjid melakukan yang lebih dari yang diminta, pendeta Widiatmo menjawab, “karena kami belajar tidak menonjolkan diri”.

Sikap tidak menonjolkan diri itu sesungguhnya mencermin belokan hidup menggereja yang lebih mendasar lagi; menurut Seo telah mencair batas-batas komunitas gerejawi tersebut, dan tidak penting lagi penegasan siapa yang di luar dan siapa yang di dalam. Malah menurut pendeta Trimin dari GKJ Susukan, tugas GKJ bukan membawa orang non-Kristen ke dalam atau menghalangi warga gereja ke luar, tetapi membuat semua orang tahu bahwa pintu GKJ selalu terbuka.

Tentu catatan analitis Seo ini serius dan membuka tantangan baru, dalam arti apakah memang jalan menjadi Kristen Nusantara ialah dengan membuka isolasi gereja-suku sambil selanjutnya mengambil posisi tidak menonjol agar dengannya umat Kristiani dapat melakukan "take and give" secara lebih intensif lagi?

Di pihak lain, percakapan model menggereja yang cukup serius telah diajukan oleh Romo Mangunwijaya, dengan nama yang disebutnya yaitu Gereja Diaspora. Maksud beliau ialah gereja perlu hidup menyebar mengikuti langgam umatnya, dan memasuki ruang-ruang jerih umat dalam upaya sintas di dunia modern ini. Bukan ortodoksi yang dikejar, bukan menjulangnya gedung gereja yang dibangun, tetapi keterlibatan konkret di berbagai ranah tantangan. Kalau umatnya buruh, maka persekutuan iman mesti terjadi di antara pabrik-pabrik, kalau jemaatnya pedagang di pasar rakyat maka gereja menjadi persekutuan memberdayakan modal kerja sektor informal itu.

Maka modus bahwa gereja harus kelihatan hadir besar dan bertambah banyak digangsir di sini, yang perlu rupanya gereja menyebar dan tidak menonjol, lalu mencari bentuk kehadirannya dan ruang pengaruhnya. Semacam menggarami proses hidup diajukan di sini, dan inilah yang dapat menjadi cikal-bakal tradisi Kristen di Nusantara.

Maka kalau begitu akan terjadi sinergi Islam-Kristen: gereja bertugas memperkuat pelayanan multi-aspek atas umat yang berdiaspora di berbagai tempat dan perkara -tentu umat lintasiman-, dan itu dikerjakannya di antara sela atau celah yang dibuka oleh rekan seperjalanannya, yaitu umat Islam Nusantara.

 

Penulis adalah dosen luarbiasa STT Jakarta dan pendeta GKPS Cijantung


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home