Loading...
DUNIA
Penulis: Yan Chrisna Dwi Atmaja 15:54 WIB | Kamis, 20 Agustus 2015

ISIS Raup Rp 152,5 Miliar Per Bulan di Irak

Warga Irak mengamati kerusakan pascaledakan bom yang menyerang sebuah pasar sayuran di distrik Sadr City, Baghdad utara, 13 Agustus 2015. Serangan Bom truk yang diklain ISIS menewaskan 38 orang di area berpenduduk mayoritas warga Syiah dari ibu kota itu, dalam salah satu serangan tunggal mematikan di kota dalam beberapa bulan terakhir. (Foto: AFP)

BAGHDAD, SATUHARAPAN.COM – Militan ISIS menghasilkan 11 juta dolar AS (sekitar Rp 152,5 miliar) per bulan dari “kejahatan terorganisasi” di provinsi Niniwe sebelum merebutnya dan merebut ibu kota Mosul, menurut sebuah laporan parlemen yang diperoleh AFP.

Sebelum Mosul direbut pada 10 Juni tahun lalu, anggota ISIS bertindak seperti “mafia yang mengelola kejahatan terorganisasi,” dan menguasai “semua sumber daya ekonomi di provinsi itu,” kata laporan tersebut, hasil dari penyelidikan parlemen terhadap kegagalan yang menyebabkan jatuhnya kota Mosul.

ISIS memiliki “sistem spesifik untuk mengumpulkan uang” dan menerapkan “tarif spesifik” untuk kelompok sosial tertentu sebagai bagian dari pemerasan, berdasarkan laporan itu, yang belum dirilis secara publik.

Beberapa pejabat dari Niniwe menyatakan ISIS awalnya menerima sekitar lima juta dolar AS (sekitar Rp 69,3 miliar) per bulan dari sistem tersebut, namun nilainya meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 11 juta dolar AS tidak lama setelah merebut Mosul. Akan tetapi laporan tersebut tidak merinci kapan pemerasan dimulai.

Laporan itu mengutip berbagai contoh “pajak” yang dipungut oleh ISIS, termasuk terhadap produk minyak bumi yang diangkut dari sebuah kilang utama di provinsi Salaheddin, yang menghasilkan sekitar satu juta dolar AS (sekitar Rp 13,9 miliar) per bulan.

Semen juga “dikenakan pajak” dengan cara yang sama, sementara ISIS juga menerima pendapatan dari 300 kontraktor di ibu kota Mosul, menghasilkan sekitar 75 juta dinar (sekitar Rp 912,4 juta) per bulan.

Penasihat dewan provinsi Zuhair al-Chalabi mengatakan ribuan dokter membayar sedikitnya 300 dolar AS (sekitar Rp 4,2 juta) per bulan kepada ISIS, sementara 1.400 pemilik pembangkit listrik swasta masing-masing membayar sedikitnya 200 dolar AS (sekitar Rp 2,8 juta).

“Semua orang membayar kepada Daesh, bahkan penjual sayuran,” menurut isi laporan, menggunakan akronim dalam bahasa Arab untuk merujuk ISIS.

Pendanaan ini merupakan “sumber daya ekonomi utama yang membantu membangun organisasi teroris ini dengan cepat dan efisien serta melipatgandakan kapasitas anggota dan logistiknya,” katanya. (AFP)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home