Prancis: Muslim Korban Pertama Terorisme
KUWAIT, SATUHARAPAN.COM - Menteri Luar Negeri Prancis, Laurent Fabius, menegaskan bahwa umat Muslim adalah korban pertama dari terorisme.
"Tidak ada yang berperang atas nama agama," kata Fabius hari Selasa (27/1) di Kuwait, dalam kunjungan untuk kerja sama internasional melawan ektremisme. Kuwait adalah negara Muslim pertama yang dikunjungi sejak serangan kelompok bersenjata Islam pada kantor majalah Prancis, Charlie Hebdo.
Ketika Kuwait dan Prancis berperang "melawan terorisme, kita melawan mereka yang bukan saja pembohong, tetapi juga pembunuh," katanya. "Muslim telah menjadi korban pertama dari para teroris."
Fabius menyerukan kerjasama internasional yang lebih kuat untuk mengendalikan ekstrimisme. "Ini adalah pertempuran yang kita harus menang," kata dia.
Menteri Luar Negeri Kuwait, Sheikh Sabah Khaled al-Sabah, mengatakan bahwa Kuwait dan Prancis memiliki "pandangan yang sama terhadap terorisme," dan menegaskan kecaman keras Kuwait terhadap "serangan brutal di Prancis" yang ditujukan pada majalah Charlie Hebdo.
Sabah juga memperingatkan bahwa "terorisme adalah ancaman bagi kita semua," dan menyerukan upaya yang lebih besar mengatasi aliran dana ke kelompok radikal dan perekrutan para militan.
Fabius mengatakan Prancis memandang Islam sebagai agama moderat dan menekankan bahwa pemerintah Prancis akan menerapkan hukum secara tegas terhadap tindakan melawan Islam atau Muslim. (AFP)
Kremlin: AS Izinkan Ukraina Gunakan Senjata Serang Rusia Mem...
MOSKOW, SATUHARAPAN.COM-Kremlin mengatakan pada hari Senin ( 18/11) bahwa pemerintahan Presiden Amer...