Loading...
INDONESIA
Penulis: Ignatius Dwiana 07:01 WIB | Kamis, 05 Desember 2013

Semarak Natal Penyandang Tuna Netra

Semarak Natal Penyandang Tuna Netra
Ritson Manyonyo memberi sambutan kegiatan Natal bersama. (Foto-foto: Ignatius Dwiana)
Semarak Natal Penyandang Tuna Netra
Peserta kegiatan Natal bersama.
Semarak Natal Penyandang Tuna Netra
Anak penyandang tuna netra menyanyikan lagu pujian.
Semarak Natal Penyandang Tuna Netra
Anak penyandang tuna netra menari.
Semarak Natal Penyandang Tuna Netra
Anak penyandang tuna netra bermain alat musik mengiringi lagu pujian.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Forum Kerjasama Antar Lembaga Tuna Netra Kristen yang terdiri dari 16 lembaga tuna netra Kristen sejabotabek mengadakan kegiatan Natal bersama. Kegiatan ini berlangsung di Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta pada hari Selasa (3/12). Kegiatan ini sekaligus memperingati hari disabilitas internasional yang diperingati setiap 3 Desember.

Selama ini 16 lembaga tuna netra Kristen sejabotabek terasa berjalan dan berjuang sendiri-sendiri. Dirasakan kurang kebersamaan. Melalui kegiatan Natal bersama ini diharapkan dapat menjadi awal dalam menciptakan sebuah forum komunikasi sehingga dapat saling bersinergi dan bahu membahu.

Salah seorang panitia penyelenggara kegiatan Natal,Ritson Manyonyo, ketika diwawancara mengatakan, “Kami berupaya ke depan forum ini akan memberi greget yang kuat kepada lembaga-lembaga Kristen untuk memfasilitasi warga binaannya dengan baik. Mungkin kami punya target tahun depan semacam bursa kerja agar teman-teman tuna netra yang siap kerja punya peluang, punya tempat untuk bekerja, berkarya. Forum ini ada untuk hal-hal begitu.”

Harapan Ritson Manyonyo dalam Natal tahun ini supaya tuna netra harus berani untuk mempersiapkan diri dan mandiri. Dengan persiapan dan langkah itu maka tuna netra menjadi tidak tergantung dengan orang lain. Selama masih menggantukan diri maka orang lain maka tidak akan pernah maju.

“Apapun ceritanya, kondisi, dan keadaannya, kami harus mempersiapkan diri. Makanya lembaga-lembaga yang membina warga binaannya harus punya program yang mumpuni supaya ke depan teman-teman ini bisa survive.

Ritson Manyonyo juga berharap gereja bisa terbuka terhadap penyandang tuna netra dengan memberi pelayanan yang baik dan bukan belas kasihan. Dia juga berharap supaya Pemerintah jauh lebih terbuka dan bukan sekedar  berwacana dan berteori. “Undang-Undangnya sudah lengkap. Peraturan sudah sangat sempurna. Hanya pelaksanaan teknisnya harus benar-benar maksimal.”

Ritson Manyonyo yang menyandang tuna sejak lahir ini melanjutkan, “Label untuk penyandang cacat di Indonesia berubah-ubah. Ada difabel, diferensia, penyandang cacat, berkebutuhan khusus, disabilitas, tetapi hanya berubah nama tetapi tidak mengubah nasib mereka. Hanya indah dalam label.”

“Harapan kamimelalui peringatan hari internasional penyandang cacat seperti ini dan Natal dapat membuka banyak orang untuk melihat bahwa kami tidak sekedar berkumpul dan dikasihani. Tetapi kami berkumpul karena kami eksistensinya ada. Kami berharap ke depan akan lahir generasi tuna netra yang benar-benar bisa memberikan motivasi dan inspirasi.”

Sementara Tony yang juga penyandang tuna netra mengaku senang bisa merayakan Natal bersama penyandang tuna netra lainnya. Perayaan Natal ini menguatkan hatinya sebagai penyandang tuna netra.

Pengusaha spare part mobil yang tinggal di daerah Senen ini mengaku menjadi tuna netra di usia 25 tahun karena masalah auto-imun dengan matanya. Hal ini awalnya membuatnya drop karena sebelumnya tidak pernah merasakan menjadi tuna netra.

Tony mengatakan walau menjadi penyandang tuna netra tetap tidak usah minder. Terus saja bergaul terutama di antara tuna netra supaya saling menguatkan. Karena kalau menjadi penyandang tuna netra menyendiri saja akan merasa kesepian. Tetapi kalau bergaul satu sama lain maka akan merasa dikuatkan sehingga tumbuh semangat.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home